Minggu, 26 Desember 2010

Sajak Pendek untuk Amir Biki

Rabu , 12 September 1984
Hari ini Priok memanas , sepanas cuaca di penghujung kemarau
Masjidi  Baitul Makmur menjadi saksi bisu
Jiwa -Jiwa tegar tapi haus kebenaran
Jiwa jiwa yang tertindas , terbakar api dendam
Bangkit .. Mengadang .. Menerjang..
Demi keyakinan .. Demi Kehormatan
Gugur demi kehormatan agama ,

12 September 1984
Darah mu mengalir membasahi bumi Priok yang panas
Bersama puluhan atau ratusan 
Suhada - suhada yang tewas tanpa dosa
Tertembus peluru tajam peguasa

Tak kenal iba .... Tak kenal dosa
Demi kekuasaan .. Demi Keangkuhan

AMIR BIKI ,
Jiwa dan raga mu telah pergi
Tapi namamu , terukir dalam di tanah ini
Engkau pergi Demi Keyakinan
Engkau pergi Demi Kehormatan



Sabtu, 25 Desember 2010

Untuk Kita Renungkan

Ketika tetes embun pagi hari tak lagi menyentuh pucuk daun -daun hijau
Jatuh lurus ke Bumi menyentuh tanah tandus
Tanah kering , tanah humus tanpa aroma
Tak ada lagi pohon - pohon di hutan
Tempat rotan kaitkan batangnya
Agar tetap hidup nilmati Karunia Tuhan

Burung -burung kehilangan ranting pohon
Tempat mereka letakkan sarangnya
Besarkan anak-anaknya , Lestarikan kehidupannya
Dan ikan -ikan kehilangan sungai yang jernih
Kehilangan air tempat mereka hidup
Semua karena ketamakan kita

Dan alampun mengutuk kita
Dengan segala sumpah serapahnya
Ketika kita rampas kekayaan bumi ini
Tanpa sisakan sedikitpun untuk alam
Tanpa rasa bersalah apalagi merasa berdosa
Demi rupiah dan harta yang tidak akan pernah kita bawa ke alam baka

Dan alam pun akan mengutuk kita
Dengan sejuta sumpah serapahnya
Ketika tak ada lagi tanah untuk anak berpijak
Tak ada lagi pohon untuk berteduh
Tak terdengar lagi kicau burung di pagi
Kita rampas hak mereka di hari ini
Kita rampas warisan mereka untuk masa depan
Tidak sisakan sedikit untuk anak cucu kita

Kelak mereka akan mengutuk kita
Dengan sejuta sumpah serapahnya
Dan sesalpun tak ada guna

Ruang Hampa

Disini , Aku pernah singgah
72 jam terbaring kaku , tanpa daya  , tanpa suara
Terombang ambing dalam alam hampa antara ada dan tiada
Lalui detik demi detik nantikan mukjizat TUHAN
Tetes air mata istriku yang jauh di sudut pipi ,
Tak kuasa sadarkan aku
Elusan lembut Putriku tak mampu membangunkan ku
Dari tidur panjang ini

Disini , aku pernah singgah
72 jam terbaring kaku tanpa daya
TUHAN... Jangan panggil aku pagi ini
Aku masih rindu sinar matahari pagi
Yang bersinar lembut menembus dinding rumahku
Aku rindu tetesan hujan yang turun melewati lubang atap rumahku
Aku rindu akan canda tawa putri-putriku
Aku rindu senyuman manis istriku
Aku rindu senyuman angin yang bertiup sendu

Tuhan .. jangan panggil aku pagi ini
Hidupku masih hitam .. Tidak abu - abu
Apalagi putih seperti kertas
Dosaku masih penuh , seperti hamparan pasir dipantai
Toabtku belum sampai , masih jauh,
sepanjang langkah yanng tak pernah usai
Belum ada balas dan bakti untuk orang tua tercinta
Belum ada apa-apa yang dapat kupersembahkan untuk Putri-putri ku tercinta
Belum ada titip kata teruntuk istriku tercinta

Disini , aku pernah singgah
72 jam terbaring kaku tanpa daya
Tanpa suara
Alunan suara surat Yassin yang begitu lembut ,
Hembuskan nyawa dalam jasad ku
Bangunkan roh dalam ragaku
Detakkan jantung dan tubuhku
Alirkan darah dalam nadiku
Dan gerakkan syaraf-syaraf ku

ALLAHUAKBAR
Terima kasih TUHAN ,
Engkau masih memberiku kesempatan  Kedua untuk hidup