Selasa, 15 Februari 2011

elegi pagi

memandang hijau hamparan teh malabar
bangkitkan rindu pada kampung halaman
pada batuan yg kokoh di tg kelayang
pada putihnya pasir di pantai bilik
pada sejuknya angin di pantai tg pendam
pada keluarga yang merindukanku
pada seorang sahabat yg selalu menanti
dalam bimbang dan ketidakpastian
sahabat mampukah kita satukan hati
bersama menghadapi hari esok yg pasti
hadapi realita kehidupan dengan senyuman
bersama dalam suka,duka,dan tawa
ataukah itu hanya menjadi impian kosong belaka
bagaikan embun pagi jatuh di pucuk teh
menguap tanpa bekas tersiram cahaya matahari
menatap hamparan hijau teh malabar
ingatkan aku cerita panjang tentang kita berdua
ingatkan aku akan janji-janji kita disaat bulan purnama
bersama bintang-bintang dan cita-cita kita yang tergantung disana
habiskan malam bersama angin yang berhembus
akankah kita mampu hadapi cobaan ini ditengah
kerasnya realita kehidupan ini
akankah waktu satukan kita berdua
wujudkan mimpi dalam dunia nyata

Ayah

air mata belumlah kering terhapus dari pipi ini
duka belumlah hilang tergores di lubuk hati
dan bunga-bunga tabur diatas pemakaman ibu
belumlah kering dan layu
hari ini engkau pergi tinggalkan kami
susul ibu yang telah pergi
di pagi yang sejuk
tatkala takbir pertama dikumandangkan setelah subuh
dan suara bedug berkali-kali terdengar
ini semua cerita panjang tentang hidupmu,berakhir sudah
seorang ayah yang kami banggakan telah pergi
pendamping hidup kami hadapi kerasnya kehidupan
berikan nasehat dengan petuahnya
marahi kami dengan kasih sayangnya
pria yg tega hadapi cobaan
pria yang tangguh hadapi godaan
rela berkorban demi anak-anaknya
ayah,berakhir kisahmu di tanah ini
di pulau indah tempat kita bernaung
bersama dalam tangis dan tawa
bersama dalam suka dan duka
dan akan kami teruskan perjuangan ini
akan kami ceritakan tentang kisahmu
kepada anak cucu kami
terimakasih atas segalanya

do'a malam

malu aku kepada Tuhan
tak ada yang dapat aku persembahkan
tak ada yang lebih dan dapat aku banggakan
kata bismillah pun tak lancar ku ucapkan
takbir,sujud,dan salam tak khusyu di jalankan
doaku hambar tertiup angin dan hilang tanpa makna
Tuhan aku malu menghadap Mu
memandang lanit biru serasa mencibirku
aku malu tundukkan kepala
menatap bumi yang subur dan hijau seakan setiap saat mencaci
karena syukur ku pergi di kegelapan malam
Tuhan aku takut kelak aku akan menghadapmu
karena amal dan dosaku belum seimbang
karena ibadah dan sesatku belum setimpal
karena syukur ku belum sepadan dengan rahmat yg kau berikan
Tuhan bimbinglah aku dalam jalan Mu di setiap langkahku
ampunilah dosa-dosa yg telah ku lakukan
agar aku tak malu memandang langit
tak malu menatap bumi
dan aku dapat tersenyum menghadap angin

Dibawah Bendera Sutera

hari ini sang merah putih kembali dikibarkan
merah menyala diatas gerimis pagidi sudut jakarta
berbahan sutera terbaik di negeri ini
dikibarkan putra putri terbaik di negeri ini
dengan garuda di dada dan seribu rasa bangga diantara lengkingan suara bajaj dan asap-asap hitam bus kota diantara anak-anak jalanan yang terseok-seok dilampu merah tawarkan koran dan majalah
diantara ribuan pengangguran yang bergegas mencari kerja
diantara ribuan rakyat jelata yang harus menahan lapar dan tak berdaya
dan malam ini jamuan negara akan digelar
ditengah gemerlap lampu-lampu cristal istana
berbaju jas dan kebaya dengan pidato-pidato yang tanpa makna dan telah ribuan kali dibaca
yang melebur diatas tumpeng-tumpeng besar dan mencair dalam gelas
bapak sang pemimpin kami
beri kami nasi bukan orasi-orasi yg tanpa arti
agar cacing-cacing di perut kami berhenti menyanyi
beri anak-anak kami buku dan guru yang bermutu
agar masa depannya tidak suram dan kelam
beri para jurnalis kita tinta dan pena
agar mereka bisa menulis tentang keadilan & kebebasan menindas rakyat
beri kami pekerjaan dan bukan janji-janji
hari ini merah putih kembali dikibarkan
dikibarkan kembali di sudut istana
dan kami berteduh di bawahnya dengan sejuta harapan akan masa depan

Dibawah Bendera Sutera

Sabtu, 22 Januari 2011

IBU

Saat tubuh terbaring kaku tanpa daya.
Terbaring dalam tidur panjang yang abadi.
Derai air mata tak mampu tahan jiwamu pergi.
Sedu sedan tak kuasa hambat nafasmu terhenti.
Ibu,hari ini engkau pergi tinggalkan kami.
Tanpa pesan dan kata-kata keluar dari mulutmu.
Hanya senyum yang tersungging di bibirmu.
Dan air mata yang keluar dari sudut matamu.
Bagaikan kata-kata perpisahan bagi kami semua.
Ibu, hari ini engkau pergi akhiri cerita panjang kehidupan mu.
Awal perjalanan panjang hari ini.
Takkan ku dengar lagi ceritamu tentang indahnya kampung kita.
Tentang indahnya masa kecil mu dulu.
Tentang suka dan duka hidupi kami hingga dewasa.
Besarkan kami semua dengan keringat dan air mata.
Kini tak ada lagi yang akan memetik bunga soka dan bunga kenanga dihalaman.
Dan letakkan diatas pendaringan, disamping ronce melati dan dupa kemenyan.
Kirimkan harum untuk nenek dan kakek di alam sana.
Ibu, kami rindu senyuman mu dikala bahagia.
Kami rindu tawa mu di kals suka.
Kani rindu ocehan mu di kala marah.
Kamirindu keluh kesah mu dikala duka.
Selamat jalan Ibu.....
Doa kami selalu menyertaimu,,,,,




Tg.pandan, 24 Juni 2010

Memori Bandung Selatan

Ku buka jendela di awal hari dan kesejukan datang menghampiri.
Mentari mengintip di antara pucuk-pucuk pinus, seakan malu tampakkan diri.
Hamparan hijau kebun teh,tutupi bumi bak permadani
Dibatasi bukit-bukit rindang bagaikan tak bertepi.
Tertutup kabut bangkitkan sejuta ilusi.
Aku kehabisan kata lukiskan pesona negeri ini.
Bandung Selatan, Sejuta pesona, Sejuta kenangan tertanam dihati.
Gemercik air bangkitkan hasratku untuk melangkah susuri tanah ini.
Gerimis pagi tak mampu pupuskan niat hati menapak tanah basah.
Susuri sungai dangkal berbatu, saat gadis-gadis berlapis kain sibuk mencuci.
Bercanda ria di air jernih habiskan waktu di pagi hari.
Sungai yang mambelah ladang kubis dan kentang yang luas membentang.
Sungai yang mengairi kolam-kolam luas tempat ikan-ikan bercengkrama.
Bandung Selatan negeri sejuta pesona ,tercipta saat Tuhan sedang bahagia.
Limpahkan rahmat bagi umat.
Semoga terjaga lestari dibumi pertiwi.