Saat tubuh terbaring kaku tanpa daya.
Terbaring dalam tidur panjang yang abadi.
Derai air mata tak mampu tahan jiwamu pergi.
Sedu sedan tak kuasa hambat nafasmu terhenti.
Ibu,hari ini engkau pergi tinggalkan kami.
Tanpa pesan dan kata-kata keluar dari mulutmu.
Hanya senyum yang tersungging di bibirmu.
Dan air mata yang keluar dari sudut matamu.
Bagaikan kata-kata perpisahan bagi kami semua.
Ibu, hari ini engkau pergi akhiri cerita panjang kehidupan mu.
Awal perjalanan panjang hari ini.
Takkan ku dengar lagi ceritamu tentang indahnya kampung kita.
Tentang indahnya masa kecil mu dulu.
Tentang suka dan duka hidupi kami hingga dewasa.
Besarkan kami semua dengan keringat dan air mata.
Kini tak ada lagi yang akan memetik bunga soka dan bunga kenanga dihalaman.
Dan letakkan diatas pendaringan, disamping ronce melati dan dupa kemenyan.
Kirimkan harum untuk nenek dan kakek di alam sana.
Ibu, kami rindu senyuman mu dikala bahagia.
Kami rindu tawa mu di kals suka.
Kani rindu ocehan mu di kala marah.
Kamirindu keluh kesah mu dikala duka.
Selamat jalan Ibu.....
Doa kami selalu menyertaimu,,,,,
Tg.pandan, 24 Juni 2010
Sabtu, 22 Januari 2011
Memori Bandung Selatan
Ku buka jendela di awal hari dan kesejukan datang menghampiri.
Mentari mengintip di antara pucuk-pucuk pinus, seakan malu tampakkan diri.
Hamparan hijau kebun teh,tutupi bumi bak permadani
Dibatasi bukit-bukit rindang bagaikan tak bertepi.
Tertutup kabut bangkitkan sejuta ilusi.
Aku kehabisan kata lukiskan pesona negeri ini.
Bandung Selatan, Sejuta pesona, Sejuta kenangan tertanam dihati.
Gemercik air bangkitkan hasratku untuk melangkah susuri tanah ini.
Gerimis pagi tak mampu pupuskan niat hati menapak tanah basah.
Susuri sungai dangkal berbatu, saat gadis-gadis berlapis kain sibuk mencuci.
Bercanda ria di air jernih habiskan waktu di pagi hari.
Sungai yang mambelah ladang kubis dan kentang yang luas membentang.
Sungai yang mengairi kolam-kolam luas tempat ikan-ikan bercengkrama.
Bandung Selatan negeri sejuta pesona ,tercipta saat Tuhan sedang bahagia.
Limpahkan rahmat bagi umat.
Semoga terjaga lestari dibumi pertiwi.
Mentari mengintip di antara pucuk-pucuk pinus, seakan malu tampakkan diri.
Hamparan hijau kebun teh,tutupi bumi bak permadani
Dibatasi bukit-bukit rindang bagaikan tak bertepi.
Tertutup kabut bangkitkan sejuta ilusi.
Aku kehabisan kata lukiskan pesona negeri ini.
Bandung Selatan, Sejuta pesona, Sejuta kenangan tertanam dihati.
Gemercik air bangkitkan hasratku untuk melangkah susuri tanah ini.
Gerimis pagi tak mampu pupuskan niat hati menapak tanah basah.
Susuri sungai dangkal berbatu, saat gadis-gadis berlapis kain sibuk mencuci.
Bercanda ria di air jernih habiskan waktu di pagi hari.
Sungai yang mambelah ladang kubis dan kentang yang luas membentang.
Sungai yang mengairi kolam-kolam luas tempat ikan-ikan bercengkrama.
Bandung Selatan negeri sejuta pesona ,tercipta saat Tuhan sedang bahagia.
Limpahkan rahmat bagi umat.
Semoga terjaga lestari dibumi pertiwi.
Sajak Pendek untukTuhan
Tuhan dimanakah kau berada
Kau kucari di lembah,di gunung dan lautan luas
namun kau tak pernah kutemui
kau kucari di hutan di pantai dan padang rerumputan
namun kau tak pernah berjumpa
kau kucari diteriknya mentari
dan gelapnya malam tanpa bintang
ditengah sunyinya hati tanpa kepastian
dan kau biarkan aku dalam kebimbangan
Tuhan datanglah engkau dalam mimpiku ditengah malam
hadirlah engkau dalam sujudku diatas sajadah biru
hadirlah engkau dalam doa-doa yang kupanjatkan
Tuhan dampingi aku dan langkah-langkah kakiku
sapalah aku dengan senyummu
tegurlah aku dalam murkamu
bimbinglah aku dalam jalanmu
jangan biarkan aku dalam gundah dan kebimbangan antara ada dan tiada
tersesat dalam gelap ingkari hati nurani
Tuhan dimanakah kau berada
jangan biarkan aku ttenggelam dalam kegalauan ini
Kau kucari di lembah,di gunung dan lautan luas
namun kau tak pernah kutemui
kau kucari di hutan di pantai dan padang rerumputan
namun kau tak pernah berjumpa
kau kucari diteriknya mentari
dan gelapnya malam tanpa bintang
ditengah sunyinya hati tanpa kepastian
dan kau biarkan aku dalam kebimbangan
Tuhan datanglah engkau dalam mimpiku ditengah malam
hadirlah engkau dalam sujudku diatas sajadah biru
hadirlah engkau dalam doa-doa yang kupanjatkan
Tuhan dampingi aku dan langkah-langkah kakiku
sapalah aku dengan senyummu
tegurlah aku dalam murkamu
bimbinglah aku dalam jalanmu
jangan biarkan aku dalam gundah dan kebimbangan antara ada dan tiada
tersesat dalam gelap ingkari hati nurani
Tuhan dimanakah kau berada
jangan biarkan aku ttenggelam dalam kegalauan ini
Bimbang
hidup kadang kala membosankan
jalani hari-hari penuh kebimbangan
kemana langkah kaki diarahkan
kemana jiwa dan raga ini akan ditambatkan
ditengah laju hidup yang sarat beban
kepada siapa tangan ini harus ditengadahkan
pada kiayi-kiayi yang setiap hari berkhutbah tentang indahnya surga
kepada pendeta-pendeta yang setiap saat sampaikan pujian-pujian dengan sesajen
atau pada pastur-pastur yang setiap minggu sampaikan doa-doa dengan lagu-lagu dan nyanyian
atau jalani hari-hari panjang dengan kehampaan dan ketidak pastian
aku tak tahu yang mana
hidup kadang kala memang membosankan
jalani hari-hari penuh kebimbangan
kemana langkah kaki diarahkan
kemana jiwa dan raga ini akan ditambatkan
ditengah laju hidup yang sarat beban
kepada siapa tangan ini harus ditengadahkan
pada kiayi-kiayi yang setiap hari berkhutbah tentang indahnya surga
kepada pendeta-pendeta yang setiap saat sampaikan pujian-pujian dengan sesajen
atau pada pastur-pastur yang setiap minggu sampaikan doa-doa dengan lagu-lagu dan nyanyian
atau jalani hari-hari panjang dengan kehampaan dan ketidak pastian
aku tak tahu yang mana
hidup kadang kala memang membosankan
Anak-anak pantai
Bertelanjang dada tanpa alas kaki
kaki-kaki kecil lincah berlari
susuri pasir putih
rambut-rambut menguning gimbal dan kulit-kulit hitam terbakar mentari
tanpa lelah,tanpa jemu,habiskan waktu dan jalani hari
berkawan birunya laut yang membentang
berkawan putihnya pasir-pasir di pantai
berkawan putihnya awan di langit tanpa batas
anak-anak pantai...
tak tersentuh arus kehidupan kota
bersahabat dengan alam tak hiraukan masa depan
birunya laut adalah kehidupannya
samudera terbentang adalah masa depannya
taklukan gelombang adalah cita-cita nya
kaki-kaki kecil lincah berlari
susuri pasir putih
rambut-rambut menguning gimbal dan kulit-kulit hitam terbakar mentari
tanpa lelah,tanpa jemu,habiskan waktu dan jalani hari
berkawan birunya laut yang membentang
berkawan putihnya pasir-pasir di pantai
berkawan putihnya awan di langit tanpa batas
anak-anak pantai...
tak tersentuh arus kehidupan kota
bersahabat dengan alam tak hiraukan masa depan
birunya laut adalah kehidupannya
samudera terbentang adalah masa depannya
taklukan gelombang adalah cita-cita nya
Jumat, 14 Januari 2011
Perempuan Tangguh Lereng Malabar
Fajar menyingsing .. Malam berlalu .. dan pagi menampakkan diri ..
Perempuan-perempuan tangguh Lereng Malabar
Bercamping bambu merentas pagi menyambut hari
Kaki-kaki kokoh bak lelaki menapak lereng-lerang Malabar
Menyisir pohon-pohon teh nan hijau menghampar
Tangan-tangan terampil lincah memilah pucuk teh basah
Lemparkan senyum lembut dari bibir -bibir tipis penuh kepolosan
Diantara hembusan napas ringan yang ciptakan kabut tipis
Tapi pipi-pipi merah merona terbakar hangatnya mentari
Dan lembutnya terpaan sang bayu diLereng Malabar
Kala Surya turun ke barat , Siang pergi , dan Senjapun tiba ..
Perempuan -perempuan pemetik teh segera bergegas ke perkampungan
Beriringan di pematang di bawah pohon -pohon pinus nan rindang
Bergurau -gurau , usir sepi , hilangkan lelah
Usai sudah tugas hari ini
Nantikan rupiah hasil jerih payah
Berpacu waktu lintasi jalan berbatu tuk kembali kerumah
Kembali menjadi istri atas suami tercinta
Dan Ibu untuk anak -anak terkasih
Dambakan kehangatan keluarga di Lereng Malabar yang indah ..
Perempuan -perempuan gagah di Lereng Malabar
Adalah cermin perjalan terberat dan panjang kaum wanita
Tak kenal lelah , Tak kenal jemu , Tak kenal bosan ..
Entah sampai kapan, mungkin sampai ajal menjemput
Jalani hari -hari dengan keikhlasan , jalani hidup dalam kedamaian
Ditengah kegundahan dan kegalauan hati yang tak pernah terhapuskan
Tak pernnah syukuri yang Tuhan limpahkan
(Pengalengan 1991)
Perempuan-perempuan tangguh Lereng Malabar
Bercamping bambu merentas pagi menyambut hari
Kaki-kaki kokoh bak lelaki menapak lereng-lerang Malabar
Menyisir pohon-pohon teh nan hijau menghampar
Tangan-tangan terampil lincah memilah pucuk teh basah
Lemparkan senyum lembut dari bibir -bibir tipis penuh kepolosan
Diantara hembusan napas ringan yang ciptakan kabut tipis
Tapi pipi-pipi merah merona terbakar hangatnya mentari
Dan lembutnya terpaan sang bayu diLereng Malabar
Kala Surya turun ke barat , Siang pergi , dan Senjapun tiba ..
Perempuan -perempuan pemetik teh segera bergegas ke perkampungan
Beriringan di pematang di bawah pohon -pohon pinus nan rindang
Bergurau -gurau , usir sepi , hilangkan lelah
Usai sudah tugas hari ini
Nantikan rupiah hasil jerih payah
Berpacu waktu lintasi jalan berbatu tuk kembali kerumah
Kembali menjadi istri atas suami tercinta
Dan Ibu untuk anak -anak terkasih
Dambakan kehangatan keluarga di Lereng Malabar yang indah ..
Perempuan -perempuan gagah di Lereng Malabar
Adalah cermin perjalan terberat dan panjang kaum wanita
Tak kenal lelah , Tak kenal jemu , Tak kenal bosan ..
Entah sampai kapan, mungkin sampai ajal menjemput
Jalani hari -hari dengan keikhlasan , jalani hidup dalam kedamaian
Ditengah kegundahan dan kegalauan hati yang tak pernah terhapuskan
Tak pernnah syukuri yang Tuhan limpahkan
(Pengalengan 1991)
Sabtu, 08 Januari 2011
UNTUK SAHABAT
Sahabat... hari ini engkau telah pergi
untuk selamanya kau tinggalkan kami
dalam tidur panjang di alam sunyi
bunga segar kami tabur diatas tanah basah
sebagai tanda duka kami untukmu...sahabat
sepasang nisan tertanam diatas pusaramu
sebagai tanda engkau pernah ada didunia ini
doa-doa kami senandungkan diatas kuburanmu
sebagai tanda keikhlasan kami atas kepergianmu
Hari ini seorang istri kehilangan suami yang dicintai
hari ini seorang anak kehilangan ayah yang dicintai
hari ini kami kehilangan sahabat yang baik dan murah hati
jangan sesali duka yang telah terjadi
karena takdir tak bisa dihindari
jangan hujat Tuhan atas musibah ini
karena hidup dan mati bukan pilihan bagi kita
hidup hanyalah selintas jalan
menuju jalan keabadian yang sepi
selamat jalan sahabat...
September 2010
untuk selamanya kau tinggalkan kami
dalam tidur panjang di alam sunyi
bunga segar kami tabur diatas tanah basah
sebagai tanda duka kami untukmu...sahabat
sepasang nisan tertanam diatas pusaramu
sebagai tanda engkau pernah ada didunia ini
doa-doa kami senandungkan diatas kuburanmu
sebagai tanda keikhlasan kami atas kepergianmu
Hari ini seorang istri kehilangan suami yang dicintai
hari ini seorang anak kehilangan ayah yang dicintai
hari ini kami kehilangan sahabat yang baik dan murah hati
jangan sesali duka yang telah terjadi
karena takdir tak bisa dihindari
jangan hujat Tuhan atas musibah ini
karena hidup dan mati bukan pilihan bagi kita
hidup hanyalah selintas jalan
selamat jalan sahabat...
September 2010
Senin, 03 Januari 2011
Selepas Senja di Sudut Jakarta
Selepas senja di sudut Jakarta
Wajah -wajah lelah berhimpitan dalam bus kota
Berpacu dengan waktu tiba di rumah
Seorang Ibu terhimpit, berdiri di ombang - ambing
Disampingnya duduk manis sang pemuda
Tanpa Iba , tanpa kasihan , tanpa rasa bersalah
Seorang pemulung tertidur pulas di kolong Semanggi
Beralas kardus , berselimut debu
Mungkin sedang bermimpi di kelilingi 1000 bidadari
Atau sekedar berlari dari kenyataan hidup ini
Menahan lapar diperut yang tak pernah terisi
Dan jeritan pun tak pernah berarti
Jakarta memang kejam bagi si miskin
Selepas senja di sudut Jakarta
Banci - banci taman lawang mulai beraksi atur posisi
Tenggelam dalam alur profesi dan kehidupan yang tak pasti
Harapkan yang singgah berikan rejeki
Di antara remang -remang di sudut taman
Entahlah sampai kapan .....
Berbungkus noda - noda penuh kepalsuan
Dan kupu - kupu malam mulai berkeliaran
Menatapi lorong - lorong gelap tanah abang
Dan rel - rel kereta yang tertanam bisu tanpa suara
Bercanda tawa lepas di sisi jalan, umbar aurat , singkirkan moral
Dengan pupur tebal dan gincu merah merekah
Tutupi semua duka hidup dan gunda hati
Demi menyambung hidup edok hari
Kau tanggalkan kehormatan dan haraga diri
Jakarta memang kejam bagi si Miskin
Selepas senja di sudut Jakarta
Dan aku masih berdiri di sini
Merenda mimpi - mimpi tak pasti ,
Meretas benang kehidupan esok hari . . .
Wajah -wajah lelah berhimpitan dalam bus kota
Berpacu dengan waktu tiba di rumah
Seorang Ibu terhimpit, berdiri di ombang - ambing
Disampingnya duduk manis sang pemuda
Tanpa Iba , tanpa kasihan , tanpa rasa bersalah
Seorang pemulung tertidur pulas di kolong Semanggi
Beralas kardus , berselimut debu
Mungkin sedang bermimpi di kelilingi 1000 bidadari
Atau sekedar berlari dari kenyataan hidup ini
Menahan lapar diperut yang tak pernah terisi
Dan jeritan pun tak pernah berarti
Jakarta memang kejam bagi si miskin
Selepas senja di sudut Jakarta
Banci - banci taman lawang mulai beraksi atur posisi
Tenggelam dalam alur profesi dan kehidupan yang tak pasti
Harapkan yang singgah berikan rejeki
Di antara remang -remang di sudut taman
Entahlah sampai kapan .....
Berbungkus noda - noda penuh kepalsuan
Dan kupu - kupu malam mulai berkeliaran
Menatapi lorong - lorong gelap tanah abang
Dan rel - rel kereta yang tertanam bisu tanpa suara
Bercanda tawa lepas di sisi jalan, umbar aurat , singkirkan moral
Dengan pupur tebal dan gincu merah merekah
Tutupi semua duka hidup dan gunda hati
Demi menyambung hidup edok hari
Kau tanggalkan kehormatan dan haraga diri
Jakarta memang kejam bagi si Miskin
Selepas senja di sudut Jakarta
Dan aku masih berdiri di sini
Merenda mimpi - mimpi tak pasti ,
Meretas benang kehidupan esok hari . . .
Minggu, 02 Januari 2011
jika
Aku tak tahu kapan aku mati
Di senja hari diantara sinar – sinar matahari
Antara hembusan angin yang sejuk mengalir
Atau di tengah malam di antara kegelapan bintang – bintang
Atau di antara longlongan anjing – anjing yang riuh di ujung malam
Aku tak tahu dimana aku akan mati
Diantara teduhnya pohon-pohon rindang ditengah hutan
Di antara padang gersang yang tandus, kering tanpa rerumputan
Atau di antara laut yang begitu biru, terbentang luas tanpa tepi
Aku tak tahu dimana
Kelak aku akan mati
Aku masih ingin di tanah ini
Di pulau yang indah , damai dan lestari
Di antara orang –orang yang kucintai
Bila aku mati ,
Aku ingin berbaring di tanah ini
Agar dapat niknmati sinar mentari pagi yang kabarkan indahnya surya tenggelam di sore hari
Agar dapat rasakan merdunya hembusan angin dimalam hari yang ceritakan tentang kokohnya bebatuan dan pasir pantai
Agar dapat nikmati aroma rerumputan yang tersiram air hujan
Agar dapat nikmati canda bintang di kegelapan
Agar dapat nikmati gurauan kunang –kunang yang berterbangan
Diantara nisan – nisan berlapis debu dan aku akan tersenyum dalam kedamaian
Di senja hari diantara sinar – sinar matahari
Antara hembusan angin yang sejuk mengalir
Atau di tengah malam di antara kegelapan bintang – bintang
Atau di antara longlongan anjing – anjing yang riuh di ujung malam
Aku tak tahu dimana aku akan mati
Diantara teduhnya pohon-pohon rindang ditengah hutan
Di antara padang gersang yang tandus, kering tanpa rerumputan
Atau di antara laut yang begitu biru, terbentang luas tanpa tepi
Aku tak tahu dimana
Kelak aku akan mati
Aku masih ingin di tanah ini
Di pulau yang indah , damai dan lestari
Di antara orang –orang yang kucintai
Bila aku mati ,
Aku ingin berbaring di tanah ini
Agar dapat niknmati sinar mentari pagi yang kabarkan indahnya surya tenggelam di sore hari
Agar dapat rasakan merdunya hembusan angin dimalam hari yang ceritakan tentang kokohnya bebatuan dan pasir pantai
Agar dapat nikmati aroma rerumputan yang tersiram air hujan
Agar dapat nikmati canda bintang di kegelapan
Agar dapat nikmati gurauan kunang –kunang yang berterbangan
Diantara nisan – nisan berlapis debu dan aku akan tersenyum dalam kedamaian
Langganan:
Komentar (Atom)