Selepas senja di sudut Jakarta
Wajah -wajah lelah berhimpitan dalam bus kota
Berpacu dengan waktu tiba di rumah
Seorang Ibu terhimpit, berdiri di ombang - ambing
Disampingnya duduk manis sang pemuda
Tanpa Iba , tanpa kasihan , tanpa rasa bersalah
Seorang pemulung tertidur pulas di kolong Semanggi
Beralas kardus , berselimut debu
Mungkin sedang bermimpi di kelilingi 1000 bidadari
Atau sekedar berlari dari kenyataan hidup ini
Menahan lapar diperut yang tak pernah terisi
Dan jeritan pun tak pernah berarti
Jakarta memang kejam bagi si miskin
Selepas senja di sudut Jakarta
Banci - banci taman lawang mulai beraksi atur posisi
Tenggelam dalam alur profesi dan kehidupan yang tak pasti
Harapkan yang singgah berikan rejeki
Di antara remang -remang di sudut taman
Entahlah sampai kapan .....
Berbungkus noda - noda penuh kepalsuan
Dan kupu - kupu malam mulai berkeliaran
Menatapi lorong - lorong gelap tanah abang
Dan rel - rel kereta yang tertanam bisu tanpa suara
Bercanda tawa lepas di sisi jalan, umbar aurat , singkirkan moral
Dengan pupur tebal dan gincu merah merekah
Tutupi semua duka hidup dan gunda hati
Demi menyambung hidup edok hari
Kau tanggalkan kehormatan dan haraga diri
Jakarta memang kejam bagi si Miskin
Selepas senja di sudut Jakarta
Dan aku masih berdiri di sini
Merenda mimpi - mimpi tak pasti ,
Meretas benang kehidupan esok hari . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar